Terhitung telah 38 mayat ditemukan di beberapa titik bencana (19/07). Terbanyak di Desa Radda’. “Bencana ini pertama kali terjadi di Masamba” ujar masyarakat sekitar.

Lumpur-lumpur ini datang dari longsor di pegunungan kemudian tertumpuk di bantaran sungai. Air deras lalu membawanya ke pemukiman masyarakat.

Bencana selalu tak disangka datangnya, ia datang tiba-tiba membawa kabar duka akibat kelailaian kita dalam memperlakukan alam.

Dalam beberapa foto dari satelit yang beredar, hutan Masamba di beberapa titik telah digunduli. Oknum yang brengs*k itu membabat hutan, menebang pohon-pohon.

Akibatnya banjir ini selain membawa lumpur yang banyak juga kayu bekas tebangan yang jumlahnya tidak sedikit pula.

Melihat kondisi rumah-rumah masyarakat, sepertinya akan sulit rasanya untuk cepat pulih dari kondisi duka ini.

Atap, dinding, perabotan dan kendaraan habis tertelan. Kerugian ini seharusnya membangkitkan kesadaran untuk melakukan perlawanan terhadap siapa saja yang bersama-sama melakukan Eksploitasi terhadap alam.

Puluhan alat berat dari Pemerintah Daerah dan Perusahaan memberi harapan bahwa bencana ini akan cepat teratasi, tapi luka yang membekas karena kehilangan sanak saudara mereka tak akan pernah hilang.

Barangkali jika Tuhan itu baik, dititik ini saya dan kawan-kawan berdoa agar perbuatan orang-orang brengs*k yang menggundul hutan itu cepat dikutuk dan dilaknat.

Keberadaan banyak relawan membuktikan bahwa rasa kemanusiaan masih memberi harapan yang besar untuk saling membangkitkan.

Tapi, jika semangat relawan ini tidak dibarengi dengan kesadaran bahwa musuh yang nyata itu adalah Oknum pengusaha Eksploitatif yang membunuh keberlangsungan hidup pohon-pohon dan alam.

Maka, rasa sakit akan terus menerus memerihkan hati melihat perbuatan kejam ini. Hari ini Masamba, kemarin Palu, Jeneponto, Bantaeng.

Selanjutnya siapa?

Ayo jaga alam.

Hosting Unlimited Indonesia